Pangkep – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Difalya Cendekya Danial (19), seorang Calon Bhayangkara Taruna (Cabhatar) Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang yang meninggal dunia saat mengikuti pendidikan.

Difalya, yang dikenal sebagai pemudi cerdas dan penuh semangat, merupakan warga BTN Bungoro Indah, Kecamatan Bungoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Rumah duka pun dipenuhi sanak saudara, tetangga, dan kerabat yang datang menyampaikan belasungkawa.
Jarak dari Makassar ke Bungoro sekitar 57 kilometer, namun hal itu tidak menghalangi arus pelayat yang ingin memberi penghormatan terakhir. Isak tangis keluarga pecah begitu jenazah tiba di rumah duka.
Baca Juga : Kronologi Lengkap Calon Bintara Taruni Akpol dari Sulsel Difalya Cendekia Danial Meninggal
Menurut informasi, Difalya menghembuskan napas terakhir di RS Bhayangkara Semarang pada Sabtu (27/9/2025). Kabar kepergiannya begitu mengejutkan, sebab selama ini ia dikenal sehat dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda sakit serius.
Salah satu kerabat dekat, tante almarhum, mengaku masih tak percaya dengan kepergian keponakannya. “Dia anaknya kuat, tidak pernah mengeluh sakit. Bahkan sebelum berangkat pendidikan, permintaannya hanya sederhana: doakan dia bisa lulus dan jadi kebanggaan keluarga,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Duka BTN Bungoro Indah, Difalya Cabhatar Akpol Pangkep Berpulang
Kepergian Difalya menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga tetapi juga bagi teman-teman sepermainan dan lingkungan sekitar. Sejak kecil, almarhum dikenal rajin, disiplin, dan bercita-cita tinggi. Menjadi seorang polisi adalah impian yang terus ia kejar hingga akhirnya diterima sebagai Cabhatar di Akpol Semarang.
Tetangga sekitar BTN Bungoro Indah juga mengenang Difalya sebagai sosok rendah hati dan ramah. “Dia sering menyapa orang, sangat sopan, dan punya semangat luar biasa. Kami semua berduka,” kata salah seorang tetangga.
Jenazah Difalya akan dimakamkan di pemakaman keluarga di Kecamatan Bungoro. Prosesi pemakaman direncanakan akan berlangsung secara sederhana, namun penuh dengan doa dan penghormatan terakhir dari keluarga, sahabat, serta aparat kepolisian setempat.
Kepergian Difalya di usia yang masih sangat muda menyisakan luka mendalam sekaligus menjadi pengingat betapa hidup adalah rahasia Tuhan yang tak bisa ditebak. Meski cita-citanya untuk mengenakan seragam Bhayangkara tak sempat terwujud, semangat dan kenangan tentangnya akan selalu hidup di hati keluarga dan orang-orang yang mengenalnya.

















